Aku memindai lantunan lukamu, dari segores warna kanvas tanpa huruf. Kata-kata yang kau simpan. Telah jadi sekam dalam bilik hati.
Kau, yang menangis saat melukis. Menjadikan air mata bagian dari catmu. Mata memerah dengan tangan bergerak cepat, di atas kanvas kosong tanpa dosa.
Telah kucatat, ketika kau tertawa, kau tinggalkan kanvas sepi warna. Bahkan tak ada yang tercipta. Tawamu kadang tanpa peringatan, tiba-tiba pecah. Bisa di tengah malam, di pagi buta atau di siang yang panas. Tapi tak pernah lama. Kau lalu terkatup dan mengutuki tawa.
Ketika seharusnya kau sudah bisa duduk di atas balai-balai tawamu, diselubung semilir angin yang menyejukkan. Kau ripuh dalam diam. Kau rikuh, bahkan dalam kedamaian.
Lalu, kau kencangkan tali sepatumu, hendak pergi beranjak meninggalkan kesejukan.
“Mau kemana?” tanyaku.
“Mencari luka,” jawabmu dengan mata menyala.
Aku tersedak. Ketika manusia lainnya mencari bahagia, ia justru mencari luka.
“Untuk apa?” tanyaku lagi.
“Agar aku hidup,” ia tersenyum dengan kebingunganku.
Aku memicingkan mata. Tak mengerti.
“Dalam sejuk dan damai, aku hanya sekeping daun yang melayang tanpa tujuan. Aku mencari luka untuk membakar jiwa agar merona membongkar makna. Aku mencari luka untuk menyadarkanku bahwa aku memang hidup dan bernyawa.”
“Dimana kau akan mencari luka?”
“Kucari di tiap mata orang yang kucintai. Di sana pasti ada luka. Hanya tinggal membongkarnya saja.”
Semakin dijelaskan, aku semakin tak paham.
Pelukis Luka bergegas. Sebelum berlalu ia menepuk punggungku dan berkata, “Aku harus segera pergi, aku mencium aroma luka yang mampu membuat hatiku melesak. Setelah itu, aku akan datang padamu dengan beratus-ratus lukisan
luka.”
Pelukis Luka pencari luka, sampai kapan kau merobek hatimu sendiri?
sumber : http://ladangkata.com/pelukis-luka/


0 komentar:
Posting Komentar